10 Gejala Tubuh Aneh Yang Akan Terjadi Bila Kita Pergi Ke Luar Angkasa

Like and Share

Pidipedia.com-Menjadi seorang Astronot/Astronaut atau dalam bahasa Indonesia Antariksawan, memang merupakan salah satu cita-cita paling populer selain dokter oleh anak-anak. Pekerjaan ini sepintas memang terlihat menyenangkan, karena kita bisa keliling-keliling ruang angkasa dengan menggunakan pesawat antariksa. Disana kita dapat melihat planet bumi secara langsung dari kejauhan serta tubuh kita bisa melayang karena kehilangan gravitasi.

Jika dibayangkan, tentunya akan menjadi sebuah pengalaman yang sangat menyenangkan. Namun dibalik semua itu ternyata ada pula resiko-resiko yang tidak menyenangkan yang harus dialami oleh setiap astrnot. Salah satunya adalah efek samping akibat ketiadaannya grafitasi yang akan berdampak pada tubuh kita. Menariknya, efek-efek tersebut sangatlah tidak lazim, dimana tubuh kita akan mengalami gejala-gejala aneh yang tak bisa diduga.

Apa saja hal-hal aneh yang akan terjadi pada tubuh kita tersebut? Sebagaimana dilansir dari Popular Science, berikut adalah “10 Gejala Tubuh Aneh Yang Akan Terjadi Bila Kita Pergi Ke Luar Angkasa”:

 


1. Ngompol di celana, itu sudah biasa!

gejala ruang angkasa

Bagi Balita, pipis dicelana itu sudah biasa. Namun apa jadinya jika yang pipis dicelana itu adalah orang dewasa? Bagi seorang Astronot yang sedang melakukan perjalanan ke ruang angkasa, ternyata pipis dicelana itu memang sudah biasa.

Bukan tanpa sebab, karena akibat dari  ketiadaan gravitasi yang tidak memungkinkan mereka untuk merasakan tekanan di bagian kandung kemih dan memberikan sinyal jika mereka harus buang air. Alhasil, para astronot bisa saja pipis secara tiba-tiba tanpa bisa mengendalikannya.

Maka dari itu untuk menanggulanginya, mereka terpaksa harus menggunakan popok khusus dewasa sepanjang perjalanan di luar angkasa!


2. Ingusan terus, walau tidak sakit flu

gejala ruang angkasa

Tubuh kita secara rutin memproduksi ingus yang otomatis mengalir turun dari hidung ke tenggorokan. Namun, hal seperti ini tidak bisa terjadi ketika di luar angkasa. Ingus yang terproduksi akan menumpuk dan dapat berdampak pada gejala menyerupai flu.

Untuk mengatasinya, selain dengan membuang ingus secara teratur, astronot juga suka memakan makanan pedas.


3. Keringat akan terus menempel di tubuh

gejala ruang angkasa

Berada di luar angkasa dapat memberikan risiko osteoporosis, karena tubuh akan kehilangan kemampuan untuk menyerap kalsium. Maka dari itu, olahraga merupakan kegiatan yang wajib dilakukan setiap hari.
Namun akibat dari tidak adanya gravitasi, maka keringat hasil dari berolahraga tersebut dapat membentuk gelembung yang akan terus menempel di tubuh.

Antisipasinya yaitu kita harus selalu siap sedia menyediakan handuk untuk menyeka keringat tersebut. Namun bagian terjoroknya justru bukan di situ. Keringat yang terserap oleh handuk ini akan diproses menjadi air minum bagi mereka para astronot.


4. Air mata tak bisa keluar

Menangis memang bisa dilakukan dimana saja. Namun bila kita sedang berada di luar angkasa, sebaiknya tahan dulu keinginan tersebut. Sebab air mata yang diproduksi tidak akan bisa menetes, sehingga air mata yang diproduksi akan terus menumpuk di mata hingga akhirnya bisa menutupi penglihatanmu. Bisa dibayangkan, hal itu memang suatu keadaan yang sangat tidak mengenakkan.

Pengalaman semacam ini pernah dialami oleh astronot bernama Andrew Feustel. Zat anti kabut yang ada digunakan di helmnya membuat matanya berair sampai dia kesulitan untuk melihat. Alhasil, dia harus menggunakan suatu alat untuk menghilangkan air matanya.


5. Perut kembung dan tidak bisa sendawa

Gas yang terproduksi oleh lambung biasanya secara otomatis akan membuat kita sendawa. Namun, hal ini tidak akan terjadi ketika berada di luar angkasa. Gas tersebut tidak dapat dikeluarkan, alhasil terperangkap di lambung dan bikin kita kembung.

Bilamana kita memaksakan untuk sendawa, maka makanan yang ada di lambung akan ikut keluar,layaknya muntah.
Jadi bisa dikatakan bahwa sendawa di luar angkasa itu ibarat muntah.


6. Kepala dan Leher bengkak (Moon Face)

Pengaruh dari tidak adanya grativasi, maka butuh adaptasi yang lumayan tidak membuat kita merasa nyaman saat menjalani hari-hari pertama keberadaan kita di luar angkasa. Dimana aliran darah akan memenuhi bagian kepala dan leher, akibatnya kepala dan leher menjadi bengkak.

Fenomena ini kerap disebut dengan istilah ‘Moon Face’ dan bisa berlangsung hingga empat hari sampai tubuh akhirnya mampu beradaptasi dengan kondisi luar angkasa.


7. Hebatnya Sensasi Mati Rasa!

Bahkan ketika badanmu diam tidak bergerak sama sekali, pasti kamu bisa mengetahui letak kedua tanganmu.
Hal ini dikarenakan adanya gravitasi yang memberikan tarikan terhadap sendimu sehingga kamu masih bisa mengetahui posisi anggota tubuhmu. Namun lain halnya ketika kamu berada di luar angkasa.

Tarikan semacam ini tidak ada, jadi kamu agak sulit mengetahui letak bagian tubuhmu karena tangan atau kakimu bisa saja melayang tanpa sebab dan berada di posisi yang gak kamu tebak.

Banyak astronot di pesawat Apollo mengaku bahwa mereka sempat kaget ketika bangun tidur melihat ada tangan yang berada tepat di atas kepala mereka, padahal ternyata itu adalah tangan mereka sendiri.


8. Mabuk luar angkasa

gejala ruang angkasa

Bukan cuma perjalanan darat, udara, dan laut yang bisa menyebabkan kita mabuk. Melakukkan perjalanan ke luar angkasa pun kita bisa menyebabkan mabuk. Mabuk perjalanan luar angkasa disebabkan karena gravitasi dan sulitnya orientasi.

Gejala mabuk tersebut ditandai mulai dari pusing, mual, hingga muntah. Mabuk perjalanan ini akan terus menerus dialami sampai kita benar-benar bisa beradaptasi di sana.


9. Selalu ngantuk, lelah dan susah tidur (gejala ‘Jet lag’)

gejala ruang angkasa

Jet lag adalah perubahan waktu tidur sementara atau merasa lelah dan kebingungan setelah perjalanan panjang dengan melintasi beberapa zona waktu menggunakan pesawat terbang. Gejala yang umumnya terjadi akibat jet lag adalah gangguan pada pola tidur, rasa selalu mengantuk, dan kelelahan”.

Seperti halnya melakukan perjalanan udara ke luar negeri dengan perbedaannya zona waktu, para astronot juga harus siap-siap menghadapi jet lag. Tentunya jet lag yang mereka alami berbeda dan jauh lebih parah.

Jet lag di luar angkasa ini terjadi karena ketika para astronot menetap di stasiun luar angkasa internasional, stasiun tersebut akan mengitari bumi secara penuh selama 90 menit.

Bisa dibayangkan total 16 matahari terbit dan matahari terbenam yang disaksikan dalam kurun waktu 24 jam.
Hasilnya, ritme sirkadian menjadi terganggu. Astronot bisa mengalami kurang tidur dan mengalami dampak jet lag yang akan mempengaruhi mood dan konsentrasi.


10. Banyak cahaya aneh yang dapat menembus kelopak mata

gejala ruang angkasa

Banyak astronot melaporkan bahwa selama berada di luar angkasa mereka seperti melihat cahaya terang dan menyilaukan yang terpancar sekilas. Cahaya ini bahkan juga terlihat saat kondisi mata tertutup.

Namun sampai saat ini penyebabnya masih belum diketahui. Beberapa teori ada yang mengatakan bahwa cahaya tersebut muncul karena pancaran sinar kosmik yang bersumber di luar sistem tata surya kita yang mampu menembus kelopak mata. Tapi ada juga yang berpendapat bahwa cahaya tersebut tak lain merupakan halusinasi para astronot saja.

Jadi bagaimana, apa kamu masih berminat untuk menjadi seorang Astronot?

(Sumber diolah dari : Wikipedia, Popular Science, kaskus)


Sudah Tahu Yang ini?

>>Ungkap 7 Fakta Tersembunyi Dibalik Misteriusnya Planet Mars

>>Kumpulan Teori Unik dan Konyol Tentang Bumi Yang Pernah Diakui Dunia

>>NASA Optimis Manusia Bisa Hidup di Mars Pada Tahun 2030

>>Ulasan Fakta di Balik Misteri Pola “Y” yang Membentang di Permukaan Venus

Like and Share

(Visited 74 times, 1 visits today)

Silakan beri komentar anda!

tulis komentar . . .

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

shares