4 Alasan Donald Trump Melarang Umat Muslim Masuk AS

Pernyataan Donald Trump terkait janjinya untuk melarang umat muslim masuk Amerika Serikat bila kelak ia terpilih menjadi presiden, saat ini sedang popular dibicarakan oleh berbagai kalangan masyarakat dunia.

Sejak lama, sosok Trump dituding anti-Islam. Imam Besar Masjid New York, Shamsi Ali pernah menjabarkan tendensi Islamofobia itu ketika mengkritik pertemuan Setya Novanto dengan Trump pada September lalu.

Pernyataan Trump soal larangan masuknya umat muslim ke AS justru mengundang kecaman dari juru bicara Gedung Putih, Josh Earnest. Dia mengatakan Trump tidak pantas menjadi bakal capres setelah melontarkan gagasan diskriminatif tersebut.

Sesama bakal capres dari Partai Republik ikut menyerang Trump. Salah satunya Mantan Gubernur Florida, Jeb Bush, lewat akun Twitternya. “Rencana kebijakan (Trump) tidak serius. Beliau memiliki persoalan mental,” tulis Jeb.

Marco Rubio, senator Republik yang juga maju dalam pemilihan capres partainya, menuding Trump punya gagasan yang akan memecah belah warga AS. Komunitas muslim dari seluruh dunia juga mengecam pernyataan Trump.

Bukan Trump namanya bila ia tak mampu bersilat lidah secara kontroversial. Berikut merupakan empat alasan Trump dalam mempertahankan ide kebijakan melarang muslim masuk ke Amerika Serikat:


1. Melarang masuk hanya untuk sementara

Manajer Kampanye Trump, Corey Lewandowski, menegaskan maksud pernyataan Donald Trump terkait larangannya bagi umat muslim masuk ke wilayah Amerika Serikat. Warga muslim yang akan ditolak masuk itu mencakup wisatawan yang beragama Islam, selain calon imigran.

“Semua orang Islam dilarang masuk dan ada pengawasan besar-besaran,” kata Corey.

Dikonfirmasi terpisah, Trump membayangkan kebijakan melarang muslim masuk ke wilayah AS bisa berlangsung sementara saja, asal sudah dipetakan secara jelas mana saja orang berpotensi melakukan teror.

“Larangan ini bisa berlaku singkat, asal seluruh elemen bangsa kita bergerak cepat,” kata Trump saat diwawancari Televisi ABC.

“Kebijakan ini juga tidak akan berlaku bagi warga muslim yang sudah menjadi warga negara AS, tapi sedang berkunjung ke luar negeri.” tuturnya.


2. Meniru kebijakan AS pasca Pearl Harbour diserang militer Jepang pada saat PD II

Bakal calon presiden Amerika Serikat dari Partai Republik, Donald Trump, membela diri dari serangan berbagai pihak terkait idenya melarang muslim masuk ke wilayah AS. Dia berdalih, gagasan itu hanya meniru apa yang pernah dilakukan pemerintah Negeri Paman Sam pada Perang Dunia ke-II.

Trump berkaca pada peristiwa penyerangan Pangkalan Pearl Harbour oleh militer Jepang pada 7 Desember 1941. Selang beberapa hari seusai insiden itu, Pemerintah AS menahan semua orang Jepang yang berada di wilayahnya. Begitu pula warga Jerman ataupun Italia yang menjadi musuh sekutu. Lebih dari 110 ribu orang ditahan.

“Apa yang saya usulkan tidak berbeda dari kebijakan Presiden Franklin Delano Roosevert pada masa itu,” kata Trump, seperti dilansir Kantor Berita Reuters, Rabu (9/12).


3. Larangan yang berat, tapi harus dilakukan

Beberapa jam setelah mengumumkan ide melarang umat muslim masuk wilayah AS, Donald Trump berpidato di Mount Pleasant, South Carolina. Pengusaha akrab disapa DT itu mengaku tak peduli banyak pihak mengecamnya, termasuk Gedung Putih.

“Saya menyerukan sesuatu yang sangat penting, dan ide itu memang belum tentu benar secara politis, namun saya tidak peduli,” tegasnya.

Trump berkukuh tidak membenci umat Islam. Dia mengaku punya teman-teman sesama pengusaha yang beragama Islam. Masalahnya, menurut Trump, ajaran agama ini bermasalah sehingga penganutnya yang berbahaya harus dipantau dulu sebelum masuk ke AS.

“Larangan (masuk) itu berlaku sampai kita bisa memutuskan dan mengerti permasalahan ideologi Islam dan ancamannya yang berbahaya. Negara ini tidak bisa menjadi korban serangan kaum percaya pada konsep Jihad dan tidak memiliki nalar untuk menghormati sesama manusia,” ujarnya.


4. Umat Islam menurut Trump tidak bisa dipercaya

Trump menambahkan, dia mempunyai banyak teman Muslim yang baik dan hebat. Namun Trump mengklaim bahkan teman Muslimnya ini turut prihatin melihat banyak ekstremis mempunyai latar agama itu.

Oleh sebab itu, publik Amerika Serikat tidak bisa berdiam diri menunggu diserang oleh ekstremis Islam.

“Situasi ini sudah di luar kendali. Kita tidak punya gambaran siapa (orang Islam) yang datang ke negara ini, kita tidak tahu apakah mereka mencintai atau membenci kita. Kita juga tidak tahu apakah mereka akan mengebom kita,” kata sang taipan real estate dengan berapi-api saat berpidato awal pekan ini.

Trump punya rekam jejak buruk terkait Islamofobia. Pada Oktober lalu, bakal capres Partai Republik itu sudah melontarkan ide yang diskriminatif terhadap umat muslim di AS.

Trump menyatakan dia akan menerapkan aturan warga muslim harus memakai identitas khusus di Amerika Serikat.

Pernyataan itu mengingatkan orang pada zaman Perang Dunia Kedua ketika warga Yahudi di Eropa diharuskan memakai tanda kain berwarna kuning bergambang bintang daud di lengan kiri.

“Saya akan menerapkan itu. Tentu saja,” ujar Trump dalam kampanyenya di Newton, Iowa. “Harusnya ada banyak cara untuk melakukan itu, selain mendata warga,” lanjutnya.


Baca juga:

(Visited 9.278 times, 4 visits today)

Comments

comments

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *