Kita Semua Keturunan Adam, Tapi Kenapa Berbeda?

Pidipedia.com-Apakah kamu pernah berpikir kenapa setiap manusia bisa berbeda rupa/wajah, bentuk tubuh, warna kulit dan lain sebagainya hingga manusia terbagi kedalam beberapa golongan ras dan etnis? Padahal kita semua berasal dari satu keturunan yaitu Adam (menurut Agama Samawi).

Bila Darwin berpendapat bahwa kita semua berasal dari kera yang berevolusi, tapi kenapa kera yang ada sekarang berhenti berevolusi menjadi manusia? terus apakah manusia sekarang masih akan berevolusi menjadi makhluk lainnya?

Sebagai umat beragama, sebaiknya kita hanya mempercayai bahwa asal-usul manusia barasal dari Adam. Mengenai teori Darwin, kita cukup mengetahuinya saja sebagai bentuk penghargaan terhadap pendidikan.

Pertanyaannya, bila kita berasal dari satu keturunan, tapi kenapa bentuk dan warna manusia bisa berbeda antara satu sama lain? Pengaruh apa saja yang terjadi pada manusia selama ini?

Untuk menjawab pertanyaan itu, langsung saja kita simak penjelasan berikut:


1. Mutasi DNA

dna

Tampilan fisik pada dasarnya sudah dikodekan dalam gen (DNA) kita. Gen dalam tubuh kita terletak dalam inti sel, dalam kromosom, yang tersusun dari untaian rantai DNA.

DNA sendiri tersusun atas urutan pasangan basa (kode genetik) yang menyimpan semua informasi tentang bagaimana tubuh kita terbentuk, organ-organ bekerja, hingga tampilan luar tubuh kita.

Kode genetik dalam DNA diintepretasikan dalam ekspresi gen. Dikenal 2 istilah dalam ekspresi gen, yaitu genotip dan fenotip. Genotip adalah ekspresi gen yang terkodekan namun tidak muncul ke permukaan, sedangkan fenotip adalah ekspresi gen yang muncul dan teramati.

Contoh dari genotip dan fenotip bisa dilihat dari penyakit bawaan.

Bila 2 orang tua normal bisa memiliki anak dengan kelainan jantung karena salah satu atau keduanya adalah carrier (pembawa) gen penyakit tersebut dari garis keluarganya. Dengan demikian, gen kelainan jantung adalah genotip pada orangtua, namun fenotip pada anak.

Lalu apa hubungannya dengan keragaman manusia? Keragaman pada manusia, begitu juga pada spesies lain dapat ditelusuri melalui perbedaan urutan basa dalam DNA. Ada lebih dari 2 milyar pasangan basa yang menyusun rantai DNA. Jika rantai DNA yg terpilin dalam bentuk kromosom itu diurai, maka ia akan membentang sepanjang 1,8 m. Dari sudut pandang genetika, menusia, apapun rasnya adalah >99% identik, meskipun perbedaan itu hanya 0,00 sekian %, tidak ada gen yang persis sama.

Perbedaan urutan basa yang ditemukan pada sekelompok individu dalam suatu spesies disebut dengan ‘genetic marker’ (penanda gen). 2 individu yang memiliki genetic marker pada posisi yang sama mengindikasikan hubungan kekerabatan.

Dari sinilah kita bisa menelusuri leluhur kita sesungguhnya dan dari mana mereka berasal. Semakin banyak genetic marker khas yang terdapat dalam suatu ras atau spesies, makin beragam karakteristik individu penyusunnya. Keragaman genetik (genetic diversity) semakin berkurang dengan adanya migrasi.

Ketika sekelompok kecil dari nenek moyang kita bermigrasi ke daerah baru, pada dasarnya mereka membawa dalam diri mereka sample yang lebih kecil dari genetic diversity komunitas asal.

Studi menunjukkan bahwa benua Afrika memiliki genetic diversity tertinggi di muka bumi. Genetic marker dari ras-ras yang ada di seluruh dunia, baik Eropa maupun Asia, bersumber dari Afrika. Gen Afrika mengandung genotip yang berpotensi memunculkan ras-ras lain yang sama sekali berbeda dari mereka. Ketika sebagian dari mereka keluar dari tempat tinggalnya dan terpapar oleh lingkungan yang baru, maka dalam jangka waktu tertentu akan timbul mutasi yang akan merubah susunan basa dalam gen, membuat genotip berubah menjadi fenotip dan membuat mereka rentan terhadap penyakit tertentu.


2. Pengaruh lingkungan

pengaruh lingkungan

Berkaitan dengan perbedaan warna kulit.

Kulit terdiri dari beberapa lapisan yaitu epidermis, dermis, dan hipodermis. Yang menentukan warna kulit seseorang adalah pada lapisan epidermis di mana pada lapisan ini terdiri dari dua bagian yaitu lapisan tanduk dan lapisan malpighi. Pada lapisan malpighi terdapat pigmen melanin yang memberi warna pada kulit. Semakin banyak jumlah pigmen maka semakin gelap warna kulit. Selain itu juga warna kulit manusia ditentukan oleh berbagai faktor, yang terpenting adalah jumlah pigmen melanin kulit, peredaran darah, tebal tipisnya lapisan tanduk dan adanya zat-zat warna lain yang bukan melanin yaitu darah dan kalogen.

Di daerah tropis seperti Afrika dan Indonesia, umumnya memiliki warna kulit sawo matang dan cenderung gelap. Hal ini terjadi karena iklimnya yang panas dan sangat sering terkena paparan sinar matahari sehingga kulit beradaptasi agar dapat terlindung dari kerusakan yang terjadi akibat paparan sinar matahari yang mengandung sinar ultra violet. Karena itu, semakin gelap warna kulit maka ia akan semakin terlindungi terhadap sinar ultraviolet yang mana sinar tersebut dapat menyebabkan berbagai masalah kulit bahkan kanker kulit.

Untuk pengaruh lingkungan ini lebih mudah dipahami karena daerah tempat tinggal mempengaruhi produksi pigmen di kulit, gan. Jadi wajar kalau warnanya beda-beda.


3. Adaptasi

adaptasi

Adaptasi terbagi atas tiga jenis yaitu:

a. Adaptasi Morfologi

Yaitu adaptasi yang meliputi bentuk tubuh. Adaptasi morfologi dapat dilihat dengan jelas.

Contoh adaptasi morfologi pada manusia:

  • Kulit manusia akan menghitam jika berada di tempat panas.
  • Rambut-rambut halus yang berada di kulit manusia akan berdiri jika suhu udara rendah.

Contoh adaptasi morfologi pada hewan:

  • Bebek mempunyai selaput pada kakinya karena dia mencari makan di tempat yang berair.
  • Burung pelikan mempunyai paruh yang berkantung agar dia bisa membawa makanan untuk anaknya.Harimau mempunyai taring agar mudah merobek mangsanya.

b. Adaptasi Fisiologi

Yaitu adaptasi yang meliputi fungsi alat-alat tubuh. Adaptasi ini bisa berupa enzim yang dihasilkan suatu organisme. Contoh: dihasilkannya enzim selulase oleh hewan memamah biak .

Adaptasi fisiologi ada yang bersifat reversibel atau dapat kembali ke kondisi awal.

  • Contohnya, jika seseorang yang biasa hidup di daerah pantai berpindah ke daerah pegunungan yang tinggi. Maka akan terjadi perubahan fisiologi, yaitu meningkatnya jumlah butir-butir sel darah merah (eritrosit). Namun, jika orang tersebut kembali ke dataran, maka secara perlahan jumlah eritrosit akan turun atau normal seperti semula.

Contoh adaptasi Fisiologi pada Manusia:

  • Jumlah sel darah merah orang yang hidup di daerah pantai lebih sedikit dibandingkan orang yang tinggal di daerah pegunungan. Hal ini disebabkan karena tekanan parsial oksigen di daerah pantai lebih besar dibandingkan daerah pegunungan. Jika tekanan parsial oksigen rendah, maka dibutuhkan lebih banyak sel darah merah untuk mengikat oksigen.
  • Ukuran jantung para atlet rata-rata lebih besar dari pada ukuran jantung orang kebanyakan.
  • Mata manusia dapat menyesuaikan dengan intensitas cahaya yang diterimanya. Ketika di tempat gelap, maka pupil kita akan membuka lebar. Sebaliknya di tempat yang terang, pupil kita akan menyempit. Melebar atau menyempitnya pupil mata adalah upaya untuk mengatur intensitas cahaya.

c. Adaptasi Tingkah Laku

Yaitu adaptasi berupa perubahan tingkah laku.

Misalnya:

  • Ikan paus yang sesekali keluar ke permukaan untuk membuang udara.
  • Bunglon mengubah warna kulitnya menyerupai tempat yang dihinggapi.

Itulah faktor-faktor yang menyebabkan rupa/wajah, bentuk tubuh, warna kulit manusia berbeda antara satu dengan lainnya.


Baca juga:

(Visited 5.296 times, 25 visits today)

Comments

comments

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *