Kumpulan Cerita Mistis Curhatan Para Pendaki Gunung Di Tanah Jawa

Next>>>

Pidipedia.com-Kegiatan mendaki gunung memang mengasikan bila dilakukan bersama kawan-kawan diakhir pekan atau selama liburan. Dimana kegiatan ini sekarang menjadi populer dilakukan oleh remaja bahkan hingga orang dewasa sekalipun. Hingga gunung-gunung yang dahulunya sepi kini bagai pasar tumpah disetiap akhir pekan.

Biasanya bila seseorang telah nyoba bagaimana rasanya naik gunung, maka dijamin orang itu bakalan ketagihan deh. Karena keindahan alamnya tersebut merupakan daya tarik yang cukup besar untuk dijelajahi oleh para pendaki. Tapi selain keindahannya, yang namanya gunung pasti lah angker dan ada penunggunya yang biasanya menyimpan sejuta misteri dan tentunya erat kaitannya dengan dunia gaib dan hal-hal yang berbau mistis lainnya.

Berdasarkan cerita dari beberapa pendaki yang pernah mengalami hal mistis/horor selama pendakiannya di berbagai gunung yang ada di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Ternyata terdapat berbagai ragam kisah mistis yang bisa bikin bulu kuduk berdiri, dari adanya pasar hantu di puncak gunung, mendaki bareng orang yang sudah meninggal, diganggu jin setempat dan lain sebagainya.

Untuk lebih jelasnya, berikut kumpulan cerita mistis pengalaman para pendaki yang diambil dari curhatan-curhatannya di sosmed yang telah berhasil kami himpun:


Cerita di Gunung Gede Pangrango

Gunung gede pangrango

Gunung Pangrango (3.019 mdpl)
Gunung ini terletak di batas tiga kabupaten, yaitu Kabupaten Bogor, Kabupaten Cianjur dan Kabupaten Sukabumi.

1. “Kaki Misterius”

Pengalaman mistis yang dialami seorang pendaki dari akun blogspot dengan username iamberseker15

Berikut ceritanya:

“Ketika itu, ane naik ke gede sama teman dari kampus berjumlah 10 orang. Kami mulai mendaki kira-kira di hari sabtu pagi tgl 23 nov 2013 jam 5 pagi, lewat green ranger.

Alhamdulillah pendakian kami lancar-lancar aja sampai Kandang Batu, cuma terjadi beberapa cedera ringan dan keram di paha salah satu temen ane si P yg masih newbie dan dia di suruh senior ane (sebut saja si A) untuk stretching lagi.

Itu setelah ngelewatin pos Panyancangan, gan. Sontak seluruh temen ane pada ngakak tuh liat temen yang lagi senam pemanasan.
Oke next. Setelah penuh perjuangan, akhirnya pukul 11 siang kami sampai di Kandang Batu. Kita nge-camp, di sana hampir seharian karena ada 2 orang temen ane kaya cedera gitu. Akhirnya, keesokan harinya, yaitu hari minggu, semua temen ane baru siap untuk naik ke puncak Gede.

Submit ke puncak kira-kira jam 10 pagi dari Kandang Batu dan sampai di puncak jam 12 siang. Setelah itu, kami turun lagi jam 2 siang dan kembali ke Kandang Batu tepat jam 4 sore.

Setelah selesai makan dan packing, kami ber-10 memutuskan untuk turun dari Kandang Batu selepas adzan maghrib. Sejak inilah kejadian mistis mulai terasa.

Setelah melewati pos air panas, rombongan terpecah menjadi 2 kelompok. 5 orang di depan jalan duluan dan5 orang lagi, termasuk ane, jalan di belakang.

Sedangkan senior si A jalan sambil membantu temen ane si F yang fisiknya sudah mulai kelelahan hebat. Break pun jarang di lakukan oleh senior si A, padahal si F sudah terlihat letih, alasannya adalah karena si A posisinya berada di paling belakang.

Namun, tiba-tiba perjalanan turun ini dihentikan oleh senior. Ternyata dia kebelet BAB. Akhirnya pergilah dia ke semak-semak yang berada di luar trek. Belum lama, tiba-tiba dia ngga jadi BAB.

Katanya, dia melihat seekor makhluk aneh dengan mata yang merah menyala yang buat dia ketakutan. Akhirnya perjalanan turun pun dilanjutkan, senior pun menyuruh kita untuk break di pos 1 saja.
Sesampainya di pos 1, ane dan lainnya cuma duduk sambil saling berhadapan di batu-batu bahu jalan pos 1.
Ngga lama duduk, lewatlah seekor musang putih lewat di hadapan kami semua. Kami menganggap itu isyarat untuk tidak berlama-lama di pos 1. Setelah kejadian itu, kami pun langsung bergegas lanjutin perjalanan.

Nah, kali ini giliran ane ngalamin kejadian aneh. Ane ngerasa kaya diikutin penunggu situ gan, apalagi waktu sampe track Telaga Warna yang jalannya landai bergelombang. Disitu, ane ngerasa posisi ane berada di tengah-tengah rombongan.
Artinya, masih ada 2 orang lagi dong di belakang ane. Jadi, terakhir ane liat itu si senior A masih ada di belakang sebelah kanan ane dan temen ane ,si C, di sebelah kiri belakang ane.

Di jalan bergelombang itu, ane dengar dengan jelas banget ada suara hentakan sepatu di sebelah kanan belakang ane.
Ane fikir mah itu senior ane, makanya ane cuek aja. Sekitar 100 meter ane jalan dengan suara tapak sepatu tersebut, akhirnya ane coba nyapa senior ane, “Bang, semangat banget jalannya!”.
Eh yang jawab malah si C, “Wey, bang A udah di depan noh. Emang lu ga sadar? Cuma gue yg paling belakang,”.
Dan tiba-tiba suara sepatu tadi ilang sendiri pas ane ngobrol sama si C. “Lah, tadi lu kaga denger suara tapakan sepatu??” lanjut ane. Si C pun menjawab “KAGA BORRR!!”.

“Lah, itu suara sepatu siapa coba?” kata ane dalam hati. Ane pun langsung ngibrit jalan seribu langkah sama si C buat menyusul rombongan kelompok ane. Pukul 9 malam, kami pun sampai di pos Ranger Cibodas dan bertemu dengan temen-temen ane yang jalan duluan tadi.

Setelah ngumpul semua, kami pun memilih untuk nyantai di sebuah warung. Di situlah banyak cerita kejadian-kejadian mistis yang dirasakan temen-temen selama perjalanan turun tadi.
Dimulai dari cerita si P yang cedera saat naik, memang si P ini punya bisa melihat makhluk astral dengan mata batinnya (dia belajar dari dunia persilatan).
Dia sebetulnya memang termasuk katagori pendaki newbie yang staminanya kurang, tapi hebat banget dia turunnya bisa cepet dan berada di depan, bukan sama kelompok ane yg 5 orang di belakang tadi.

Ternyata kata dia, di sepanjang perjalanan turun ini, si P ini terus melihat sesosok manusia berkepala monyet di sebelah kanan jalan diantara pepohonan gelap dengan menggunakan headlamp.

Dia juga melihat sesosok arwah pendaki di area jalan dekat dengan pos 1. Arwah pendaki ini masih berpakaian lengkap dengan menggendong keril dan mengenakan topi mendaki warna hitam. Kata si P lagi, arwah pendaki tersebut lagi mantau temen-temen ane berempat yang turun bareng si P
Kemudian si F (temen rombongan ane yg kelelahan) pun ikut cerita juga. Katanya, waktu di pos 1, selang beberapa detik setelah musang putih tadi lewat, si F mendengar suara golok sedang di asah. Hanya dia yg mendengar diantara kami berlima.

2. “Gangguan Jin di Kandang Batu”

Cerita mistis ini dikutip dari sebuah fanpage dengan nama Cerita Horor yang dituliskan pada tahun 2012.

Berikut ceritanya:

“Kejadian itu terjadi tahun 2001, ketika kami masih kuliah di Jogja. Kegiatan MAPALA kami kali ini adalah naik gunung Gede-Pangrango di Jawa Barat.

Dalam perjalanan yang dimulai sejak pagi ini agak sedikit terganggu karena waktu sorenya, saat kami berada di lereng gunung, turun hujan gerimis yg membuat kami lebih menggigil kedinginan dan terpaksa menginap di pos Kandang Batu, padahal biasanya pendaki lain nginap di pos Kandang Badak.
Situasi pos Kandang Batu ini seperti namanya, banyak batu-batu besar ditambah sedikit tanah lapang yang dikelilingi pohon cemara. Di situ juga ada pondok kecil tempat para pendaki duduk berteduh yang terbuat dari kayu setinggi setengah meter,
Saat malam tiba, aku bersama satu orang kawan ngerasa ada yang ngga beres dengan tempat itu. Kami merasa ada bayangan berkelebat di belakang pondok yang terus mengawasi kami dari dalam hutan.
Kami berdua ribut soal itu, tapi kemudian kami ditegur keras sama senior karena kami dikira lagi nakut-nakutin team cewek. Akhirnya diputuskan team cowok tidur di pondok dan di depan team cewek tidur di tenda yg kami bawa di depan pondok.

Teman kami, Herman (dia punya indra keenam), ditugaskan untuk menjaga dari luar tenda cewek. Dia duduk bersila membelakangi kami yang lagi asik ngobrol ditemani beberapa lilin. Sayup-sayup terdengar Herman lagi ngaji, kami anggap itu hal biasa karena cuma Herman yang paling taat ibadah.
Dikegelapan malam, kadang-kadang aku arahkan senter ke arah Herman, ternyata dia masih dalam posisi duduk bersila dan masih mengaji. Nggak lama, tiba-tiba Herman berhenti ngaji dan sama sekali tidak terdengar suara kecuali suara pohon-pohon yang ditiup angin.

Setelah beberapa lama, aku jadi heran karena setiap senter diarahkan ke Herman, posisi duduknya masih sama, yaitu membelakangi kami dan sama sekali tidak bergerak.
Karena heran, maka aku dan senior pun mencoba untuk mendatangi Herman dan memanggil namanya. Setelah kami sentuh, tiba-tiba Herman jatuh/rebah dalam posisi duduk bersila (kelihatan seperti beku).
Suasana pun jadi kacau karena kami kira Herman sudah mati karena hipotermia. Kami angkat herman ke dalam pondok. Beberapa lama kemudian tiba-tiba Herman menyeringai dan berkata “ KALIAN JANGAN MACAM-MACAM, DI SINI TEMPATKU!” setelah itu dia pingsan lagi.

Kawan-kawan yang lain langsung berdoa dan baca ayat-ayat Quran. Aku sempat memperhatikan situasi saat itu, jam 22.30 malam, tidak ada suara jangkrik seperti biasanya, tidak ada suara pohon ditiup angin, tidak ada pendaki lain yang lewat (padahal selama perjalanan naik kami sering papasan dengan banyak pendaki lainnya), hawanya aneh karena ngga ada suara apa-apa selain suara air netes dari atap pondok.

Aku merasa bahwa kami seperti dikurung dan dikucilkan dari dunia luar. Selain cahaya senter dan lilin di pondok, diluar sana yang terlihat cuma gelap.
Herman akhirnya sadar tapi matanya nanar meliat kami sekeliling sambil nyengir aneh, setelah beberapa lama Herman sadar, aku liat jam lagi, ternyata sudah jam 00.30. Saat itu suasana menjadi normal lagi, ada suara jangkrik, ada suara pohon ditiup angin dan ada pendaki lain lagi yang lewat dan menyapa kami.

Sampai kami sampai di puncak, Herman tidak mau bercerita. Baru setelah turun gunung, ia cerita bahwa semenjak dari air terjun panas, kami sudah diikuti oleh jin yang memiliki postur tinggi besar hitam.

Saat kami masak makan malam, katanya jin itu berdiri di dekat tungku yang berada di pinggir hutan. Ketika Herman sendirian menjaga tenda cewek dan ngaji, barulah mahluk itu mendatangi Herman, (ingat waktu herman tiba-tiba berhenti ngaji malam itu) dan membawanya ke keraton gaib yang besar.
Jin itu mau minta satu tumbal dari kami, tapi Herman menolak dan terjadi perkelahian. Ditengah-tengah perkelahian itu, tiba-tiba Herman dibantu oleh Pangeran Surya Kencana.

Sebelum naik gunung, kami sama sekali tidak tau siapa itu Pangeran Surya Kencana. Namun, kata anak-anak MONTANA yang biasa turun naik gunung Gede-Pangrango, Pangeran Surya Kencana yang nolong Herman itu tadi adalah penjaga gunung itu.
Belakangan, kami pun juga baru sadar bahwa cuma kami aja yang ‘berani’ menginap di pos Kandang Batu.”

3. “Pasar Hantu”

Pengalaman ini diceritakan langsung oleh akun kaskus dengan username gedebongpisang di sebuah thread

Berikut ceritanya:

“Kira-kira tahun 2011 lah ane terakhir pergi ke sana. Seperti biasa, ane mulai mendari lewat jalur gunung putri bareng temen ane, 6 cowo 1 cewe. Kita udah sampe di bawah gunung putri kira-kira jam 8an lah, makan malam dulu, shalat dan persiapan pendakian.

Baru kira-kira kira jam 9 atau jam 10 (ane lupa) kita mulai pendakian. Dengan kondisi habis hujan deras yang membuat track semakin sulit dilalui, sampailah ane sama temen di pos pertama pendakian yang ada bangunan kayak bekas toilet gitu. Akhirnya kita berencana nge-camp di situ dan baru mulai mendaki lagi besok siang buat ke Surya Kencana.

Nah, di sini ane mulai ngerasain keanehan. Abis makan dan maen api unggun, ane ngerasa temen-temen ane yang lagi ngobrol bareng suaranya jauuh, kaya lagi berada di beberapa meter dari ane. Padahal jelas-jelas mereka ada di depan ane. Waktu itu, ane pikir mungkin ane kecapean atau ngantuk kali ya, jadi ane cuek aja. Tapi, lama-lama ane mulai ngerasa aneh lagi, ditambah lagi, setiap mereka ngomong ane ngerasa lupa dengan apa yang mereka obrolin padahal ga ada 5 detik yang lalu mereka ngomong.

Akhirnya ane mutusin buat masuk ke tenda sambil bilang ama temen-temen kalo ane ga enak badan. Pas ane mau masuk tenda, tiba-tiba ane nge-blank gan! Pandangan item semua selama beberapa detik dan pokoknya ane tiba-tiba udah di dalem tenda aja, jelas ane mulai panik. Gara-gara ane panik, temen-temen ane pada ngerubungin. Mereka pikir mungkin ane kedinginan karena baju basah, tapi setau ane, ane masih dalam keadaan kering karena pakaiannya baru ganti semua.

Temen-temen ane bermaksud buat nenangin hati ane dengan bilang, “Elo mungkin kedinginan,” walaupun ane tau ane dalam keadaan ga kedinginan sama sekali. Tapi anehnya, badan ane bergeter gan, dari kaki dan terus menjalar pelan-pelan ke badan sampe kepala. Ane mulai ngerasain panas di punggung ane. Ane pikir mungkin ane mulai proses kesurupan makanya ane baca-baca doa aja waktu itu.

Dalam kondisi antara ane sadar dan ga sadar itu, ane ngedenger suara orang lagi main gitar sambil ketawa-tawa jauh di belakang ane. Padahal pas siangnya, ane masih inget bahwa disitu tuh jurang. Terus ane juga ngedenger dengan jelas di sekeliling tenda ane banyak suara daun yang kena langkah kaki orang, suaranya rameee banget kayak pasar.

Ane akhinya nyoba mejamin mata aja coba tidur. Ane pun ketiduran sampe pagi, untungnya ane ga kenapa-napa. Perjalanan pendakian pun dilanjutkan sampe ke puncak dan pulang lagi dengan selamat. Malahan waktu ane turun dari surya kencana, ga terasa cuma tiga jam perjalanan sampe pos pemersiksaan awal. Alhamdulillah.

Sorry gan kalo kepanjangan, itu aja pengalaman ane.

4. “Tante Kun”

Cerita ini dari komentar akun screamingfans

Berikut ceritanya:

“Ini pertama kalinya ane naik gunung Gede. Ane naik sama abang ane, temen ane 2 dan temen abang ane 3. Total 7 orang naik nih. Berhubung dari Jakarta dan pendakian dimulai hari jumat, jadi sampe Cibodas itu sekitar jam 11 malem.

Tadinya kita mau nunggu setelah adzan subuh baru mulai pendakian, tapi berhubung udah pada kebelet mau naik, akhirnya jam 12 pas kita mulai lah pendakian. Start jam 12 dr pos TNGP.

Setelah beberapa lama perjalanan, akhirnya sampe juga di pos air terjun tuh. Temen abang ane ngambil persediaan air minum di air terjun. Waktu itu kabut di sekitar air terjun itu tebel banget, kaya asep fogging lah.

Setelah berapa saat ngaso di sana, akhirnya kita lanjutin pendakian. Tapi baru juga beberapa langkah, kita udah dicegat sama gerombolan babi hutan. O iya, saat lewat telaga biru kalo bisa jangan malem deh, kapok ane. Ane yang waktu itu baru “bisa ngerasain” aja, ngerasa hawanya ngga enak kalo udah malem dan kata abang ane yang “bisa”, emang begitu.

Ane pun mempercepat langkah. Akhirnya setelah matahari muncul, ane dan yang lain segera cari spot yang enak buat bikin tenda. Ketemulah tempat yang kira-kira strategis, tempatnya itu ada di Kandang Batu, tapi lebih maju lagi, deket air terjun yang di hutan.

Tempatnya emang cukup luas dan datar, muat untuk bikin 1 tenda gede dan 2 tenda kecil lah kira kira. Nah, pas udah pada cape tuh. Kita stay-lah di situ, masak, tidur-tiduran, ngemil dan sebagainya. Pas malem tiba, lagi-lagi kita di sambangi oleh babi hutan. Entah kenapa baru sehari udah di samperin babi hutan 2 kali. Alhasil langsung pada masuk tenda semua lah.

Dicepetin lagi deh langsung ke part seremnya.

Ini kejadiannya pas kita turun, lagi-lagi jalan turunnya malem. Di beberapa pos awal turun, kita ga ada masalah, cuman saat sampe mau air terjun pada ngeluh semua tuh, yang cape lah, ada yang minta istirahat lamaan lagi lah dan lain-lain.

Percaya ga percaya (kalo ane sih percaya, udh kejadian), kalo di gunung kita banyak ngeluh saat perjalanan, maka perjalanan kita akan dibuat lebih panjang dari sebelumnya. Akhirnya emang kejadianlah, perjalan turun kita dibuat muter-muter sama “yang iseng”.

Ane inget kita udah muter di jalan yang sama sampe 3 kali cuma ane diem aja. Akhirnya pada duduk lagi tuh karena kecapean jalan. Setelah disemangatin abang ane, akhirnya pada mulai semangat lagi buat lanjutin perjalanan.

Nah, pas udah ga di puter-puterin lagi, di jalan semua anggota pada heran tuh, soalnya ada binatang putih tapi putihnya itu bersinar.

Temen ane ada yang bilang mirip kelinci lah, malah ada yg mau nangkep (entah kecapean kali sampe pikirannya agak miring ya, pake mau di tangkep segala). Kata abang ane, “Udah biarin aja,” akhirnya kita jalan lagi dah tuh.

Nah pas disini nih, ane bener-bener liat! Ane kan jalan nunduk tuh, biar ga berasa capenya, trus ane iseng liat ke depan. Pertama ane ga ngeh kan, ane kira ada orang ngasi tanda di jalan biar ga nyasar. Tapi ane bingung, ini kan masih di bawah dan papan pentunjuknya masih jelas, kenapa ngasi tanda?

Ane perhatiin lagi dah tuh, tapi kok ngasih tandanya gede juga ya, ane makin bingung aja. Ane kira lagi itu tanda anak sekolahan kali ya, soalnya kan papasan sama rombongan dari sekolah gitu. Ane perhatiin aja terus tuh gan, tapi kok tinggi ke atas yaa, pas udah rada deket ane kaget banget gan!
itu mbak Kun lagi melayang gitu sampe ane lewatin gan! Ane kira abis lewat udah kan yaa, eh ternyata malah ngikut lagi gan di atas tas ane posisinya.

Sontak aja tas ane jadi berat banget rasanya, padahal isinya cuma, kaos, sisa beras ga sampe 1 kg lah sama panci doang, tapi rasanya kaya bawa 2 tabung gas elpiji yang biru.

Ane tahan-tahan aja dah tanpa bilang ke yang lain, daripada ntar pada ngibrit semua sedangkan ane ga bisa lari gara gara berat nih tas. Setelah beberapa lama pas udah mau sampe pos yang deket telaga, tiba-tiba itu putih berhenti gan.

Ane rasa batas wilayahnya udah abis tuh, “Alhamdulliah deh”, ane bilang. Abis dari pos itu ane langsung ngacir tuh sampe pos TNGP dan ngerebah di dalem posnya sampe subuh lagi.


Cerita di Gunung Argopuro

gunung argopuro

Gunung Argopuro (3.088 mdpl)
Gunung ini berada dalam wilayah Kabupaten Probolinggo, Kabupaten Lumajang, Kabupaten Jember, Kabupaten Bondowoso, dan Kabupaten Situbondo, dengan puncak Rengganis ada di wilayah Kabupaten Jember.

5. “Jalan terasa cepat”

Cerita mistis ini menurut pengalaman seorang pendaki dengan akun facebook: Nur Yanti

Berikut ceritanya:

“Sampai sekarang saya belum berani lagi menapakkan kaki di Puncak Rengganis gunung Argopuro. Kira-kira dua puluh tahun lalu saya mendaki bersama kelompok pecinta alam ke gunung Argopuro. Ketika kami turun gunung, tiba-tiba ransel yang tadinya biasa saja, menjadi berat seperti ada yang sengaja menarik. Ketika saya menoleh ke belakang, ternyata tidak ada siapa-siapa, karna saya sebagai tim penyapu harus berjalan paling belakang sambil mengumpulkan sampah plastik yang kami temui sepanjang jalan.

Semakin lama ransel menjadi semakin berat seperti ada yang bergelantung di ransel saya, hingga akhirnya saya lari mendahului teman-teman supaya saya tidak berada di belakang lagi. Sampai akhirnya saya berjalan paling depan dan saya merasa tidak takut lagi dan anehnya ransel menjadi semakin ringan. Sesekali saya menengok ke belakang untuk memastikan bahwa semua baik-baik saja. Teman-teman masih berjalan di belakang saya.

Sampai akhirnya saya tiba di desa, beberapa senior yang sudah standby di warung bertanya: “Kok kamu sendiri? mana yang lain?” Ditanya begitu saya juga bingung, karena tadinya semua rombongan berada tepat di belakang saya, tapi di warung itu saya tiba sendirian. “Ah mungkin bentar lagi mereka sampai.” Lama kami menunggu rombongan, tiga jam kemudian muncul tiga orang dari rombongan, mereka berlari menuju warung dengan nafas terengah-engah lalu bercerita, bahwa mereka telah berusaha mengejar saya.

Padahal tiga orang ini merupakan pendaki andalah dengan jam terbang tinggi. Mereka bahkan memanggil2 saya yang katanya seperti “kesirep”. Namun saya tidak mendengar apa-apa. Rombongan yang lain baru datang 6 jam kemudian dengan wajah2 loyo. Padahal saya jalan biasa dan mereka berada tepat di belakang saya, kenapa bisa beda 6 jam? Rekan2 saya yakin bahwa saya telah kerasukan. Tapi saya tidak merasa ada yang aneh dan kurang percaya takhayul. Namun kenyataannya apa yang saya alami dan apa yang mereka ceritakan berbeda… Hanya Tuhan Yang Maha Tahu.

Pertama saya pikir teman-teman mau ngerjain saya, tapi waktu mereka datang, mereka benar-benar loyo dan kepayahan (kalau ngerjain, masa iya 6 jam mereka tega ngerjain senior yg harus nunggu lama juga)… mereka juga tanya, bagaimana bisa saya lari secepat itu, senior yang sudah sering ke Argopuro saja gak bisa mengejar saya yang cuma pendaki “amatiran”. Padahal waktu itu saya jalan biasa, kalau saya tengok ke belakang, rombongan jg selalu tepat berada di belakang saya… tapi yang biasanya kaki melepuh setelah pendakian, waktu itu, kaki saya sehat2 saja, gak kerasa sakit sama sekali.

Tapi semenjak itu saya gak mau ke Argopuro lagi. Masih banyak koq gunung yang gak angker… yang bisa dijelajahi sendirian, tanpa perlu rasa takut ;)”


6. “Misteri wanita cantik”

Cerita mistis ini menurut pengalaman seorang pendaki dengan akun facebook: Yohanes Fery Pebrianto

Berikut ceritanya:

“Jadi setelah selesai makan waktunya istrhat, lokasinya di sekitar danau taman hidup. Skip kita tidur, dlm mimpi antara sadar dan enggak ada cahaya warna kuning spt cahaya matahari terang sekali, lalu muncul diantara cahaya itu sesosok wanita cantik, cantik sekali.

Wanita itu seperti mengayunkan tangan, memberi semacam selembar tisu, namun ketika hendak dipegang tiba tiba terbangun dari tidur, ternyata masih malam dan lanjut tidur, esok paginya keluar tenda dan menemukan selembar tisu, persis spt yg diberikan wanita itu semalam, tisunya bkn spt milik rombongan kita, pdhl semalam semua properti sdh kita masukkan setelah, terkhir masak mie.”


Cerita Mistis Gunung Sindoro / Sundoro

 

… lanjut dihalaman berikutnya! Yang pastinya bikin bulu kuduk berdiri
(Visited 4.796 times, 2 visits today)

Comments

comments

Next>>>

Add a Comment

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *