Mengenal Uang Zaman Kerajaan yang Pernah Beredar di Nusantara

Next>>>

Pidipedia.com-Nusantara masih terbilang muda dalam hal mengenal alat pembayaran berupa mata uang. Tercatat dalam sejarah, bahwa negeri ini baru mempunyai uang resmi sekitar abad ke-8 Masehi pada masa Kerajaan Mataram Syailendra. Pada masa itu, orang-orang lebih gemar menggunakan cara barter, baik dari hasil perkebunan, ternak dan lainnya.

Dikarenakan semakin pesatnya pertumbuhan perdagangan pada waktu itu, bahkan perdagangan di pasar-pasar besar di Nusantara terkenal diberbagai Negara, mulai dari Negeri Jiran Malaysia, hingga kerajaan-kerajaan manca negara seperti Cina, India, Arab, sampai Eropa dan Afrika.

Zaman Kerajaan
Keadaan itu, membuat kerajaan-kerajaan di Nusantara berupaya untuk membuat alat tukar yang sah berupa uang. Dengan maksud untuk lebih memudahkan melakukan transaksi (tidak ribet seperti barter).

Uang yang pernah beredar di Nusantara sangat banyak dan beraneka ragam jenisnya. Berikut ini adalah jenis-jenis uang yang pernah beredar di Nusantara.


1. Uang Mataram Syailendra (Zaman Kerajaan Mataram Syailendra)

Berdasarkan bukti sejarah yang ditemukan, mata uang di Nusantara dicetak pertama kali sekitar tahun 850 Masehi, yaitu pada masa kerajaan Mataram Syailendra yang berpusat di Jawa Tengah.
Uang Kerajaan
Uang ini terbuat dari emas atau disebut juga “keping tahil Jawa”, sekitar abad ke-9. Koin-koin tersebut dicetak dalam dua jenis bahan emas dan perak, mempunyai berat yang sama dan mempunyai beberapa nominal satuan:

Masa (Ma), berat 2.40 gram = 2 Atak atau 4 Kupang
Atak, berat 1.20 gram = ½ Masa, atau 2 Kupang
Kupang (Ku), berat 0.60 gram = ¼ Masa atau ½ Atak
Untuk satuan yang lebih kecilnya lagi yaitu ½ Kupang (0.30 gram) dan 1 Saga (0,119 gram).

Koin emas zaman Syailendra berbentuk kecil seperti kotak, dimana koin dengan satuan terbesar (Masa) berukuran 6 x 6/7 mm saja. Pada bagian depannya terdapat huruf Devanagari “Ta”. Di belakangnya terdapat incuse (lekukan ke dalam) yang dibagi dalam dua bagian, masing-masing terdapat semacam bulatan. Dalam bahasa numismatic, pola ini dinamakan “Sesame Seed”.

Sedangkan koin perak Masa mempunyai diameter antara 9-10 mm. Pada bagian muka dicetak huruf Devanagari “Ma” (singkatan dari Masa) dan di bagian belakangnya terdapat incuse dengan pola “Bunga Cendana”.


2. Uang Kampua (Zaman Kerajaan Buton)

Uang Kampua atau disebut juga “Uang Bida” terbuat dari kain yang beredar pada masa kerajaan Buton – Sulawesi sekitar abad ke-9 Masehi pada masa pemerintahan Ratu Bulawambona.
Uang Kerajaan
Konon uang tersebut ditenun langsung oleh putri raja. Sedangkan untuk menentukan nilai tukar, diserahkan kepada Menteri Besar Kerajaan (setingkat Perdana Menteri).
Nilai tukar uang kampua ditentukan dari ukuran kain uang tersebut. Bila uang yang lebarnya 4 jari dan panjangnya sepanjang telapak tangan (mulai dari pergelangan tangan hingga ujung jari ukuran tangan menteri besar kerajaan), maka senilai dengan sebutir telur ayam.

Oleh karena itu, banyak ditemukan peninggalan uang kampua dengan ukuran berbeda-beda. Setiap tahunnya diadakan perubahan corak, agar tidak mudah dipalsukan. Sanksi bagi pelaku pemalsuan uang adalah hukuman mati.


3. Uang Krishnala (Zaman Kerajaan Jenggala)

Kerajaan Jenggala atau disebut juga Kerajaan Kediri berada di wilayah Jawa Timur. Mata uangnya adalah Krishnala yang dibuat pada masa kejayaan kerajaan Hindu abad ke-9 Masehi dan diperkirakan beredar pada tahun 856-1158 Masehi.
uang kerajaan
Ciri uang ini terdapat pada bagian depannya yang memiliki ukiran berbentuk “T” yang disebut lingam, sedangkan pada bagian belakangnya terdapat tulisan huruf jawa kuno.


4. Uang Dirham (Zaman Kerajaan Samudera Pasai)

Kesultanan Pasai, juga dikenal dengan Samudera Darussalam, atau Samudera Pasai, adalah kerajaan Islam yang terletak di pesisir pantai utara Sumatera, kurang lebih di sekitar Kota Lhokseumawe dan Aceh Utara, Provinsi Aceh, Indonesia.
uang kerajaan
Mata uang emas dari Kerajaan Samudera Pasai untuk pertama kalinya dicetak oleh Sultan Muhammad yang berkuasa sekitar tahun 1297-1326 Masehi.
Mata uangnya disebut “Dirham” atau “Mas” dan mempunyai standar berat 0,60 gram (berat standar Kupang).

Namun ada juga koin-koin Dirham Pasai yang sangat kecil dengan berat hanya 0,30 gram (1/2 dari Kupang atau 3 kali Saga). Uang Mas Pasai mempunyai diameter 10–11 mm, sedangkan yang 1/2 Mas berdiameter 6 mm.

Pada hampir semua koinnya ditulis nama Sultan dengan gelar “Malik az-Zahir” atau “Malik at-Tahir”. Nama dirham menunjukkan pengaruh kuat pedagang Arab dan budaya Islam di kerajaan tersebut.


5. Uang Kasha (Zaman Kesultanan Banten)

Kesultanan Banten persis berada di Provinsi Banten, Indonesia. Mata uang dari Kesultanan Banten pertama kali dibuat sekitar 1550-1596 Masehi berbentuk koin yang diambil dari pola koin cash Cina yaitu dengan lubang di tengah, dengan ciri khas persegi 6 pada lubang tengahnya (heksagonal).
uang kerajaan
Inskripsi bagian muka pada mulanya dalam bahasa Jawa: “Pangeran Ratu”.
Namun setelah mengakarnya agama Islam di Banten, inskripsi diganti dalam bahasa Arab, “Pangeran Ratu Ing Banten”.

Terdapat beberapa jenis mata-uang lainnya yang dicetak oleh Sultan-sultan Banten, baik dari tembaga ataupun dari timah, seperti yang ditemukan pada beberapa tahun yang lalu.

Yuk baca selanjutnya,,,

(Visited 1.731 times, 1 visits today)

Comments

comments

Next>>>