Merusak Hutan demi Rupiah, Bagaimana Menurut Anda?

Pidipedia.com-Sebagian besar hutan di Lampung mengalami kerusakan. Hal itu diakibatkan karena semakin meningkatnya jumlah penduduk dan aktivitas ekonomi di sekitar hutan yang memperparah keadaan hutan tersebut. Puluhan korporasi pun menangguk rupiah dengan merusak alam.

Dinas Kehutanan Lampung pada 2015, telah mencatat sekitar 542.335 ha hutan dalam keadaan rusak. Jumlah kerusakan itu mencapai 53,97 %  dari 1.004.735 ha total keseluruhan hutan di Lampung.

Syaiful mengatakan, jika kerusakan hutan di Lampung terjadi akibat aktivitas degradasi dan deforestasi. Degradasi hutan merupakan perubahan di dalam hutan yang berdampak negatif terhadap struktur hutan. Sementara, deforestasi hutan, yakni aktivitas pengalihan hutan menjadi lahan dengan tujuan lain.

Lampung memang kaya sumber daya alam hutan dan keanekaragaman hayati, flora, dan fauna. Namun sayangnya, hutan-hutan Lampung dipenuhi ribuan perambah serta sejumlah korporasi. Beberapa dari mereka telah memiliki izin sampai puluhan tahun lamanya.

Berdasarkan catatan Dinas Kehutanan, hutan di Lampung terbagi menjadi empat kawasan, yakni hutan konservasi, hutan lindung, hutan produksi terbatas, dan hutan produksi tetap. Dari ke empat kawasan ini, yang lebih parah adalah pada kawasan hutan produksi.

Pasalnya, pada  hutan produksi terdapat empat perusahaan besar bercokol dan telah mengantongi izin pemanfaatan hasil hutan kayu pada hutan tanaman industry. Dengan luas lahan garapan yang dikuasainya yaitu 117.970 ha dan lamanya berkisar 45 hingga 60 tahun. Sementara, yang mengantongi izin pinjam pakai kawasan hutan terdapat 11 perusahaan. Dengan luas lahan yang dikuasai yaitu 9.075,64 ha dan lamanya antara dua sampai 20 tahun.

Lanjut Syaiful, dari 225,090 ha luas hutan produksi, tingkat kerusakan mencapai 172,146 ha atau 76,48 %. Sedangkan, kerusakan hutan konservasi 37,16 % dan hutan lindung 62,49 %.  Padahal, meskipun banyaknya korporasi yang mengusahakan hutan produksi, kebutuhan kayu lokal tetap belum terpenuhi. Kebutuhan kayu lokal mencapai 570.200 meter kubik per tahun. Tetapi, korporasi hutan di Lampung hanya mampu berproduksi 95.922 meter kubik per tahun.

Selain itu, Hendrawan selaku Direktur Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Lampung juga mengungkapkan jika kerusakan hutan di Lampung sudah bertambah sekitar 0,18 % menjadi 54,15 % dalam beberapa bulan ini. Menurutnya, kerusakan hutan produksi sangat mengkhawatirkan karena mencapai hingga 75,48 persen. Belum lagi hutan mangrove yang hanya tersisa sebanyak 15 persen pada 2008.

Source : Republika

Bagaimana tanggapan Anda tentang Merusak Hutan demi Rupiah? Silahkan sampaikan tanggapan Anda di bawah ini!

(Visited 32 times, 1 visits today)

Comments

comments

Add a Comment

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *